BERMIMPILAH !

DAN PADA BAYANG-BAYANG YANG JATUH DI SELASAR SAAT HUJAN..
PADA DIRIKULAH, AKU TERBANG..
MENGEMBANGKAN SAYAP PEMBERIAN..
MENDAKI KEDALAMAN, BERTARUNG DENGAN MALAPETAKA..
AKULAH, SEORANG BIASA..
DENGAN MIMPI-MIMPI DI LUAR BATAS KEPALA..

20 Okt 2011

KRITIK SASTRA

Film Ketika Cinta Bertasbih 2 merupakan saduran dari novel dengan judul yang sama. Film dengan nuansa religi ini menyedot perhatian masyarakat Indonesia yang kekurangan bahan referensi menyejukkan, menunggu oase yang akan menghentikan semakin panasnya kemerosotan moral bangsa kita karena sudah terlalu banyak mengonsumsi tayangan beraroma vulgar dan tidak mendidik sama sekali.
Habiburrahman El Shirazy, biasa dipanggil Kang Abik, merupakan orang di balik layar yang berperan penting dalam film KCB 2, selain sebagai penulis novelnya, ia adalah dalang pencarian aktor dan aktris melalui audisi untuk pemeran film berdurasi kurang lebih dua jam tersebut. Para pemain memang diseleksi agar sesuai dengan karakter dalam film tersebut. Karena film ini berlatar belakang religi islam, maka Kang Abik juga memilih pemain dengan latar belakang yang sama, yaitu religius.
Anna Althafunisa akhirnya diperankan kembali oleh Okky Setiana Dewi dan lawan mainnya Azzam dilakoni oleh Kholidi Asadik Alam. Mereka berdua masih menjadi pusat dari segala cerita di film ini.
Semua pemeran adalah pemain lama di serial sebelumnya, Ketika Cinta Bertasbih 1. Yang berbeda hanya dari segi setting pengambilan gambar. Pada Ketika Cinta Bertasbih 1, tempat yang digunakan sebagai latar belakang adalah Mesir. Sedangkan pada KCB 2 ini lebih terfokus di Indonesia, tidak lagi menggunakan Mesir sebagai setting tempat.
Sedangkan adegan-adegan yang dilakoni pemain masih seputar pada hal-hal yang menunjukkan keharuan, kesedihan, cinta yang kompleks, dan masalah yang mereka bawa dari KCB 1. Bahkan dalam banyak adegan di KCB 2 ini, penonton disuguhi suasana yang dapat mengaduk perasaan dan situasi yang membawa penonton untuk menguras airmata. Namun, bisa kita cermati lebih mendalam, apakah peran dan adegan mengharukan serta mengundang airmata ke permukaan itu dapat dibawakan dengan baik oleh actor maupun aktris yang masih digolongkan pada jam terbang awal itu?
Tengok saja Husna, saat adegan yang menurut saya merupakan momen paling mengharukan yaitu ia mendapatkan penghargaan atas kontribusinya dalam dunia tulis menulis. Husna mendapat kesempatan untuk mengucapkan rasa syukurnya di depan hadirin dalam forum tersebut. Ia mengeluarkan tiap patah kata dengan ekspresi yang seharusnya mampu membuat siapa saja menitikkan airmata, terutama ucapan terimakasih untuk kakaknya Azzam yang membiayai dia dengan berjualan tempe sembari belajar di Al-Azhar. Namun satu bulir airmata pun tidak ada yang jatuh di pipinya. Memang adegan terharu tidak semuanya harus dihubungkan dengan adanya airmata. Tetapi, alangkah keringnya saat seorang perempuan yang notabene berhati lembut tidak dapat menangis untuk hal yang paling berharga dalam hidupnya. Juga saat ibunya meninggal dunia, kentara sekali Husna tidak dapat mengeksplorasi airmatanya untuk jatuh mengiringi kesedihan hatinya. Benar-benar kering dan gersang jika dilihat dari kacamata saya, sebagai sesama wanita.
Selain Husna, ada Furqon yang juga terlihat canggung memainkan bagian yang harus ia perankan. Ketika ia harus mengakui penyakit yang ia idap selama beberapa bulan terakhir atau ketika ia depresi berat akibat dilema yang ia alami saat ia harus memutuskan untuk bercinta dengan istrinya dengan resiko istrinya akan tertular penyakit HIV/AIDS atau tidak. Kefrustasian yang ia keluarkan tidak terlihat seperti kefrustasian seseorang yang sedang mengidap salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Dia seperti berakting dengan apa adanya tanpa polesan, sebatas ia bisa, atau bisa disebut alakadarnya.
Keseluruhan pemain hasil audisi bisa dibilang masih mentah kemampuannya, masih di bawah kriteria seharusnya. Padahal mereka sudah bermain di Ketika Cinta Bertasbih 1 yang notabene bersetting di Mesir. Yang pastinya akan menambah nilai pengalaman mereka dalam dunia akting. Untungnya, kekurangan mereka masih bisa ditutupi dengan kemampuan pemeran pendukung yang sudah senior, contohnya H. Deddy Mizwar yang memerankan ayah Anna dengan sangat baik.
Di luar semua itu, kita semua patut memberi acungan jempol bagi seluruh pemain dan kru dari film Ketika Cinta Bertasbih karena telah membuat film yang bisa dinikmati sekaligus dijadikan cermin untuk semakin memperbaiki diri dalam kehidupan kita sebagai seorang hamba dari Tuhannya dan sebagai manusia kepada manusia lainnya. Dengan jam terbang yang lebih banyak lagi setelah ini, saya yakin para pemain baru tersebut akan semakin menggali kemampuan mereka dalam seni peran. Selain itu dengan latihan yang keras dan pendalaman karakter yang mumpuni akan membawa mereka semua pada fase peningkatan bakat yang sudah diberikan Tuhan.
Film religi yang diperankan oleh orang-orang religius dalam film Ketika Cinta Bertasbih 2 memang kita butuhkan sebagai teladan yang baik dalam kehidupan. Namun, janganlah meninggalkan unsur lain dalam film, karena film yang baik bukan hanya dilihat dari latar belakang pemain untuk menyesuaikan dengan keadaan cerita, sehingga film yang dihasilkan dapat memenuhi kriteria film yang baik dan bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar